Pencak Silat NU Pagar Nusa : sebagai Pagarnya Nusa, Bangsa dan Ulama
Oleh : Fahlul Izzal Nishfa
Pagar Nusa bukan hanya sekedar Pencak Silat, ditengah gemuruh sorak netizen menilai Pencak Silat adalah seni bela diri yang tidak berguna, bahkan hanya merugikan masyarakat?. Lantas apa yang membuat Pencak Silat Pagar Nusa ini berbeda dari Pencak Silat yang lain? Pencak Silat NU Pagar Nusa hadir bukan hanya sekedar sebagai eksistensi untuk mencari exposure di tengah masyarakat. Tapi juga dengan tujuan untuk melindungi Nusa, Bangsa dan Ulama. Pencak Silat merupakan seni bela diri asli Nusantara yang telah berkembang sejak abad ke-7 Masehi, berawal dari keterampilan suku-suku asli Indonesia dalam berburu dan berburu menggunakan alat seperti parang, tombak, serta perisai. Sedangkan Pencak Silat Pagar Nusa merupakan organisasi bela diri di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang lahir dari keprihatinan para kyai terhadap menurunnya pengajaran silat di pesantren, dengan tujuan melestarikan seni bela diri berbasis nilai Islam (Aswaja) dan ke-NU-an.
Pagar Nusa menekankan pembentukan akhlakul karimah melalui qolbu yang bersih sebagai pondasi utama, di mana pendekar diajarkan keimanan kepada Allah SWT, tawadhu' kepada guru/pelatih, kesantunan, serta ketulusan dalam berlatih dan berinteraksi, sambil menghindari sombong, menjunjung etika moral, dan mengorbankan ego demi keikhlasan yang memperkuat pengendalian diri serta persaudaraan. Secara ruhani, latihan selalu diawali dan diakhiri doa beserta tawasul kepada guru terdahulu untuk memperdalam hubungan dengan Tuhan melalui ketaqwaan, syukur, dan refleksi meditatif guna mencapai kedamaian batin serta ketahanan mental menghadapi tantangan hidup, dengan semangat membela agama, negeri, dan NKRI berlandaskan pengorbanan serta keadilan. Pada aspek jasmani, Pagar Nusa melatih kebugaran melalui gerakan intens seperti peregangan, penguatan otot, kelincahan, dan teknik bertarung yang membangun disiplin, fokus, serta kepercayaan diri fisik, di mana latihan jasad ini tidak terpisah melainkan saling menguatkan dengan qolbu dan ruh untuk menciptakan pendekar yang seimbang secara holistik jasmani dan rohani
Asal Pendirian
Gerakan ini dimulai pada 27 September 1985 (12 Muharram 1406 H) melalui musyawarah di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, dilanjutkan pada 3 Januari 1986 (22 Rabiul Akhir 1406 H) di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, di mana nama "Pagar Nusa" diciptakan oleh KH. Mujib Ridwan sebagai simbol pagar pembela negeri. Pengesahan resmi tertuang dalam Surat Keputusan pada 9 Dzulhijjah 1406 H (16 Juli 1986), dengan tokoh pendiri seperti KH. Suhbillah (Gus Maksum), KH. Mustofa Bisri, dan ulama pencak silat dari berbagai daerah seperti Kediri, Jombang, serta Cirebon. Organisasi ini menjadi wadah bersatu bagi pendekar NU, memadukan jurus silat tradisional dengan spiritualitas Islam.
Pencak Silat Pagar Nusa mengajarkan keseimbangan holistik antara qolbu (hati), ruh (jiwa spiritual), dan jasad (tubuh fisik), memadukan teknik bela diri dengan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama'ah untuk membentuk pendekar yang kuat secara menyeluruh.
Dari perspektif ilmu komunikasi, Pencak Silat Pagar Nusa berfungsi sebagai medium komunikasi organisasi yang efektif, menyatukan pesan verbal-nonverbal melalui pola hierarkis pelatih dan siswa/anggota untuk internalisasi nilai Ahlussunnah wal Jama'ah, membangun citra positif di masyarakat via humas dan ritual latihan.
Komunikasi Internal Organisasi
Pagar Nusa menerapkan pola komunikasi roda dan lingkaran dalam manajemen, di mana pelatih sebagai pusat menyampaikan visi pembinaan moral melalui forum rutin, koordinasi struktural, dan evaluasi untuk minimalkan konflik serta perkuat kohesi kelompok. Ini mencerminkan teori komunikasi organisasi Devito, di mana arus informasi dua arah membentuk tanggung jawab anggota, sebagaimana yang diajarkan didalam Al-Qur'an Surat Al-Isra: ayat 53 yang menekankan komunikasi harmonis menghindari perselisihan: "Dan beritahulah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Aku adalah Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan sesungguhnya setan itu menyulitkan manusia, dan setan itu adalah teman yang nyata bagi manusia."
Komunikasi Eksternal dan Dakwah
Secara eksternal, Pagar Nusa memanfaatkan humas untuk relasi masyarakat, seperti pengabdian sosial dan turnamen, menyebarkan narasi "pagar agama-negeri" yang persuasif, selaras dengan tujuan pendidikan Islam yang diajarkan didalam Al-Qur'an Surat An-Nahl: ayat 125: "Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." Pendekatan ini memperkuat branding sebagai bela diri moderat NU, memengaruhi opini publik melalui simbolisme ritual doa dan gerakan silat

Komentar
Posting Komentar