Gigit atau Digigit? Ular Naga, Permainan Tradisional yang Bangkitkan Jiwa Anak Indonesia
Oleh : Fahlul Izzal Nishfa
Bayangkan ratusan tangan saling
menggenggam erat membentuk tubuh ular panjang yang menggeliat liar di bawah
terik matahari desa, sorak-sorai bergemuruh saat kepala naga menyambar
"mangsa" di ujung barisan itulah Ular Naga, permainan tradisional
Nusantara yang bukan sekadar hiburan, melainkan permainan yang melatih
disiplin, solidaritas, dan jiwa petarung bangsa, kini terancam punah di tengah
gempuran gadget dan game online, tapi siap bangkit sebagai senjata budaya untuk
generasi muda yang haus akan akar asli Indonesia.
Ular Naga merupakan permainan
tradisional ikonik Indonesia yang melibatkan kelompok anak-anak membentuk
barisan panjang seperti ular, sering disertai lagu khas "Ular naga
panjangnya bukan kepalang" untuk menambah keseruan. Permainan ini berasal
dari Jakarta dan etnis Betawi, dimainkan di lapangan terbuka sore hingga malam
hari oleh minimal 5-10 orang atau lebih, dengan dua pemain saling menggandeng
membentuk "gerbang" tangan di atas kepala sementara yang lain
berbaris memegang pinggang atau pundak pembatas depan sebagai "induk"
atau kepala naga. Saat lagu dinyanyikan, gerbang menangkap pemain yang lalu
memilih induk secara rahasia melalui bisikan, membentuk kelompok; kelompok
kecil kemudian menyerang kelompok lain untuk merebut anggota hingga satu
kelompok terbanyak menang, melatih kekompakan dan strategi tim.
Permainan tradisional Ular Naga mengajarkan nilai mendalam pada qolbu,
ruh, dan jasad secara holistik. Pada qolbu atau nurani, ia melatih hati untuk
ikhlas berkorban demi tim melalui genggaman tangan yang tulus, menumbuhkan
empati dan gotong royong ala "bhinneka tunggal ika" di mana ego
individual ditahan demi kebersamaan. Pada ruh atau jiwa, permainan ini
membangkitkan solidaritas dan ketangguhan rohani lewat sorak kolektif serta
strategi barisan seperti naga mitos, menyatukan ruh individu menjadi ruh komunal
yang optimis dan rendah hati dalam menghadapi tantangan. Pada jasad atau tubuh,
Ular Naga menjadi latihan fisik alami melalui gerak massal, tarik-menarik, dan
kelincahan barisan yang membakar stamina, memperkuat otot koordinasi serta
keseimbangan tanpa alat modern.
Pandangan Sebagai Seorang Muslim
Sebagai seorang Muslim, permainan tradisional Ular Naga bisa dipandang
sebagai ladang emas untuk menempa ukhuwah Islamiyah yang kokoh, di mana ratusan
tangan saling menggenggam seperti rantai mukmin yang tak terpisahkan mirip
firman Allah SWT yang ada didalam Al-qur’an Surat Al-Hujurat: 10 yang
menegaskan "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara", melatih
qolbu empati saat rela berkorban demi tim, ruh solidaritas ala nabi yang
menyatukan umat, dan jasad sehat sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang
menganjurkan olahraga ringan untuk jaga amanah tubuh; asal dimainkan dengan
niat ibadah, tanpa lagu maksiat atau mempercayai hal-hal yang mitos seperti mempercayai
mitos ular naga yang berbau syirik, karena pada dasarnya nama ular naga diambil
dari asal-usul budaya yang tidak bisa dipastikan, serta bentuk permaianannya
yang saling memanjang seperti ular naga. Namun Ular Naga justru jadi senjata
dakwah Nusantara yang kuat, membangkitkan generasi muda berjiwa petarung tauhid
di tengah gempuran dalam memerangi game digital yang merenggut persaudaraan
asli di era sekarang.
Perspektif dalam Ilmu Komunikasi
Dari perspektif ilmu komunikasi,
permainan tradisional Ular Naga menjadi model komunikasi non-verbal yang epik
dan massal, di mana genggaman tangan serta sorak-sorai dan ditambah nyanyian
berfungsi sebagai "pesan" sinkron yang membangun kohesi kelompok
melalui feedback loop fisik mirip teori komunikasi ritual James Carey yang
melihatnya sebagai upacara komunal untuk perkuat ikatan sosial, melatih
encoding-decoding pesan solidaritas ala Stuart Hall via gerak barisan yang
simbolis, serta menciptakan narasi bersama yang anti-individualis di era media
digital; Ular Naga bukan sekadar mainan, tapi media hidup Nusantara yang
efektif dakwah budaya, counter gempuran game online dengan komunikasi tatap
muka yang autentik, membentuk audiens partisipan yang sadar akan power dinamika
kelompok untuk isu sosial kontemporer seperti gotong royong Gen Z.
Komentar
Posting Komentar