Bakiak: Lari Bersama diatas Kayu, Uji Kesabaran dan Kerja Tim
Bayangkan berlari kencang sambil
berdiri di atas sebilah kayu panjang, kaki saling bergantian dengan teman
sepasang, tapi satu langkah salah saja bisa bikin tim ambruk tertawa ngakak.
Itulah pesona bakiak, permainan tradisional Indonesia yang sederhana namun
penuh tantangan, dari gemericik sawah hingga hiruk-pikuk pesta kampung. Di era
gadget dan kompetisi individual, bakiak mengingatkan kita bahwa kemenangan
sejati lahir dari sinkronisasi napas dan tawa bersama.
Bakiak, permainan tradisional
Indonesia dari Jawa Timur dan Sumatera Barat yang melibatkan tim berlari di
atas papan kayu panjang sambil saling bergantian kaki, mengajarkan harmoni
qolbu (hati nurani) melalui kesabaran dan ikhlas saat tim jatuh karena satu
langkah egois, melatih ruh (jiwa spiritual) lewat sinkronisasi persaudaraan dan
gotong royong yang menyatukan visi kolektif seperti ukhuwah dalam Islam, serta
mengasah jasad (tubuh fisik) dengan uji keseimbangan otot kaki, core, dan
koordinasi motorik kasar yang meningkatkan daya tahan serta anti-stres alami
bagi petani dulu maupun anak muda kini.
Dari sisi ilmu komunikasi, bakiak
mengajarkan komunikasi non-verbal efektif melalui isyarat mata, ekspresi wajah,
dan sentuhan kaki yang sinkronkan langkah tanpa kata-kata, melatih kekompakan
tim, empati interpersonal, serta feedback instan untuk adaptasi sosial esensial
dalam komunikasi kelompok modern atau kerja tim organisasi. Penelitian
etnopedagogi tunjukkan bakiak pupuk interaksi emosional, vital untuk komunikasi
interpersonal di masyarakat modern.
Bakiak pertama kali muncul di
Jawa Tengah dan Jawa Timur pada abad ke-19, lahir dari kreativitas masyarakat
agraris yang miskin akan alat bermain mewah. Kata "bakiak" berasal
dari bahasa Jawa yang berarti sandal kayu panjang, terbuat dari batang bambu
atau kayu kelapa sepanjang 2-3 meter dengan lebar 10-15 cm. Awalnya, permainan
ini bukan sekadar hiburan, melainkan latihan fisik untuk petani agar kaki
mereka kuat menari di atas lumpur sawah banjir saat musim tanam. Catatan
sejarah menyebutkan bakiak populer di era kolonial Belanda, bahkan menjadi
bagian festival desa untuk merayakan panen padi.
Pada masa kemerdekaan Indonesia (1940-an), bakiak menyebar ke seluruh nusantara melalui Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Perlombaan bakiak jadi andalan lomba rakyat, melambangkan persatuan bangsa satu tim, satu kayu, satu langkah. Di era 1980-an, permainan ini masuk agenda PON (Pekan Olahraga Nasional) sebagai cabang ekstrakurikuler, meski tak resmi. Kini, bakiak berevolusi jadi konten viral di TikTok dan YouTube, dengan tantangan "Bakiak Challenge" yang diikuti selebriti dan anak muda urban. UNESCO bahkan mengakui permainan tradisional seperti ini sebagai warisan budaya takbenda pada 2019.
A. Pandangan Sebagai Seorang Muslim
Dari perspektif
seorang Muslim, bakiak mencerminkan nilai-nilai Islam yang menekankan
persaudaraan dan solidaritas, di mana setiap langkah harus selaras agar tim
berhasil—sebuah metafor untuk kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Al-Qur'an
menegaskan pentingnya kerjasama ini dalam firman Allah SWT yang ada didalam Al-qur'an Surat Ali Imran Ayat 103: "Dan
berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai
berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa
Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah
kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara". Ayat ini relevan karena bakiak mengajarkan umat Muslim untuk saling
mengikat tangan seperti "tali Allah", menghindari perpecahan, dan
membangun ukhuwah islamiyah melalui permainan sederhana yang menyenangkan, asal
dilakukan tanpa melanggar syariat seperti menghindari unsur judi atau maksiat.
B. Dalam Perspektif Ilmu Komunikasi
Permainan
tradisional bakiak, di mana sekelompok orang bergandengan tangan berlomba
berjalan di atas papan kayu panjang, bukan sekadar hiburan fisik, melainkan
medium komunikasi nonverbal yang kuat. Dari sudut ilmu komunikasi, bakiak
melibatkan isyarat nonverbal seperti nada seirama, isyarat tangan, dan
sinkronisasi gerak tubuh untuk menyampaikan pesan "selanjutnya" atau
"perlambat", menciptakan feedback loop instan yang memperkuat kohesi
tim. Proses ini mencerminkan teori komunikasi transaksional oleh Barnlund, di
mana peserta secara simultan mengirim dan menerima sinyal, membangun pemahaman
bersama tanpa kata-kata, sehingga meningkatkan efektivitas kelompok di tengah
tantangan seperti ketidakseimbangan.
Lebih jauh, bakiak
berfungsi sebagai ritual komunikasi dalam komunikasi antarbudaya
Indonesia, memperkuat ikatan sosial melalui shared experience yang
menumbuhkan rasa kebersamaan dan identitas kolektif. Saat dimainkan di acara
kemerdekaan atau gotong royong, permainan ini menjadi kanal public
communication yang menyatukan beragam latar belakang, mengurangi noise
komunikasi akibat perbedaan, dan mempromosikan pesan persatuan nasional sebuah
contoh hidup bagaimana komunikasi embodied (melalui tubuh) lebih kuat daripada
verbal saja dalam membentuk norma sosial harmonis.
Komentar
Posting Komentar